Mamenk itu...

Click to view my Personality Profile page

Sabtu, 11 Juli 2009

Tenggelamnya PT PAL

Perusahaan Pengelola Aset (PPA) mendapat ‘pasien’ baru, PT PAL Indonesia, si pembuat kapal. BUMN yang bergerak di bidang galangan kapal tersebut tengah berada di ujung tanduk. Perusahaan yang berlokasi di kawasan ujung, Surabaya, itu kini tengah mengalami kesulitan keuangan karena timbunan utang kategori kolektibilitas lima atau macet. PAL juga menanggung kerugian operasional USD 400 juta (sekitar Rp 4,4 triliun) tahun lalu serta proyeksi kerugian USD 40 juta selama dua tahun ke depan akibat proyek ambisius membuat 21 kapal dengan biaya tetap.

Padahal, ketika kontrak pembuatan ditandatangani, harga baja hanya USD 450–USD 500 per ton. Saat ini harga baja khusus sudah berada di kisaran USD 1.300 per ton. Selain itu, PAL tengah dilanda persoalan struktural serta sumber daya manusia. Akibatnya, PAL secara terpaksa meliburkan 2.281 karyawannya secara bergilir.
Direktur Utama PT PAL, Harsusanto menjelaskan, dengan pengurangan jam kerja karyawan, biaya produksi bisa ditekan. Tujuannya, agar proyek pengerjaan kapal yang juga membutuhkan biaya, bisa tetap berjalan sembari menunggu pencairan dana talangan. Di samping itu, kata dia, libur bergilir itu sebetulnya sudah diprogramkan sejak 2006 lalu namun belum direalisasikan.
Menurutnya, PT PAL bisa balik modal atau BEP (break even point) apabila mencatat angka penjualan Rp 1,8 triliun per tahun. Kenyataannya, dalam beberapa tahun belakangan, total penjualan tidak mencapai target. Target tahun ini PAL mendapat laba Rp 6,4 miliar sedangkan tahun 2008 lalu masih merugi Rp 46 miliar dan tahun 2007 rugi lebih besar lagi yakni Rp 443 miliar.
Harsusanto pun menambahkan, menyusul kesulitan keuangan itu, sejak tahun 2008 lalu PAL sudah tidak lagi menerima order kapal baru meski permintaan cukup tinggi. Langkah tersebut dilakukan agar PAL konsentrasi menyelesaikan order kapal yang sudah ada. “Hingga tahun 2010 mendatang, PAL wajib menuntaskan order 18 kapal. Rinciannya, 9 order kapal dari dalam dan luar negeri harus selesai dikerjakan dan dikirimkan tahun 2009 ini. Dan sisanya 9 lagi order kapal harus diselesaikan pada tahun 2010,” urainya.
Menanggapi hal ini, pemerintah bertindak cepat. Menurut Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil pekan ini suntikan dana akan segera diberikan oleh PPA (perusahaan pengelola aset). Selain dari pemerintah, pihaknya saat ini juga berupaya mencarikan PT PAL pinjaman dari perbankan. ”Kalau semua dari pemerintah uangnya tidak ada, tapi untuk cari dari bank juga butuh proses. Apalagi perseroan yang akan dibiayai sedang bermasalah,” katanya.
Mengenai berapa nilai yang akan disuntikkan, PPA akan melakukan pembicaraan dengan PT PAL tentang besaran dana yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kapalnya.
Bagaimana dengan opsi merumahkan 2000an karyawannya? Sekretaris Menneg BUMN Said Didu menambahkan, PHK merupakan jalan terakhir bagi karyawan PT PAL. “PT PAL perlu rightsizing juga, selama masih ada jalan maka PHK menjadi jalan terakhir,” ujarnya, di Jakarta, Jumat (29/5). Akan tetapi, pihak direksi tampaknya bisa bernafas lega, karena meskipun kinerja perusahaan amburadul Menteri BUMN menjamin posisi mereka aman untuk sementara.




[+/-] Baca selengkapnya..

Kurikulum Berbasis Laboratorium

Diakui atau tidak, system pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Abdul Malik Fajar pun mengakui kebenaran penilaian bahwa sistem pendidikan di Indonesia sangatlah terburuk di kawasan Asia, seperti yang diberitakan KOMPAS, 5 September 2001. Dengan kondisi pemerintah sekarang yang masih harus menanggung beban krisis yang begitu berat, rasanya tidaklah tepat apabila kita menunggu kebijakan dari pemerintah pusat untuk membenahi kondisi pendidikan kita. Untuk mengatasi hal ini, kurikulum pendidikan sudah beberapa kali mengalami perubahan.
Kurikulum pertama yang lahir pada masa kemerdekaan memakai istilah leer plan. Dalam bahasa Belanda, artinya rencana pelajaran, lebih popular ketimbang curriculum (bahasa Inggris). Perubahan kisi-kisi pendidikan lebih bersifat politis: dari orientasi pendidikan Belanda ke kepentingan nasional. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.

Rencana Pelajaran 1947 baru dilaksanakan sekolah-sekolah pada 1950. Sejumlah kalangan menyebut sejarah perkembangan kurikulum diawali dari Kurikulum 1950. Bentuknya memuat dua hal pokok: daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, plus garis-garis besar pengajaran. Rencana Pelajaran 1947 mengurangi pendidikan pikiran. Yang diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.
Penyempurnaan berikutnya dilakukan di tahun 1952, 1968, 1975 hingga pada tahun 1984 kita mengenal yang disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.
Sebagai pengganti kurikulum 1994 adalah kurikulum 2004, yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian.
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2006/2007 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.
Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Menurut Sudarminta, SJ masalah yang dihadapi pada dunia pendidikan di Indonesia saat ini meliputi :
1. Mutu pendidikan kita masih rendah
2. Sistem pembelajaran di sekolah-sekolah yang belum memadai
3. Krisis moral yang melanda masyarakat Indonesia
Sedangkan tantangan yang dihadapai agar tetap “hidup” memasuki milenium ketiga adalah perlunya diupayakan :
1. Pendidikan yang tanggap terhadap situasi persaingan dan kerjasama global.
2. Pendidikan yang membentuk pribadi yang mampu belajar seumur hidup.
3. Pendidikan yang menyadari sekaligus mengupayakan pentingnya pendidikan nilai.

Perubahan kurikulum selama ini saya rasa masih sangat kurang memadai jika digunakan untuk menghadapi tantangan bangsa sekarang. Untuk itu perlu diadakannya satu kurikulum yang bisa mengakomodasi tujuan pendidikan sekaligus mampu mencetak kader-kader bangsa yang berdaya saing.
Laboratorium adalah salah satu bagian tak terpisahkan dalam sebuah proses belajar mengajar. Menurut wikipedia.com, laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.
Dalam perkembangannya, laboratorium diharapkan menjadi pusat kegiatan di sekolah-sekolah atau universitas-universitas. Agar fungsi ini lebih terkontrol dan maksimal, maka perlu adanya aturan-aturan yang mengharuskan seperti itu atau bisa dibilang dibikin satu kurikulum yang bernama kurikulum berbasis laboratorium.
Di kurikulum ini nantinya tiap sekolah/universitas berkewajiban menyediakan laboratorium yang memadai bagi para siswanya. Baik itu lab IPA, IPS maupun bahasa. Atau bisa jadi akan ada pengkhususan sekolah. Dimana tiap sekolah hanya membidani beberapa keahlian tertentu.
Di kurikulum ini juga nantinya para siswa tidak akan menerima terlalu banyak matero teoritis namun lebih ke hal-hal yang sifatnya aplikati. Para siswa juga sudah tidak butuh UAN lagi karena nantinya apabila ingin lulus dia harus mengumpulkan proyek yang telah dikerjakannya selama menempuh pendidikan.


[+/-] Baca selengkapnya..

Menuju Negara Maritim Indonesia

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Kita semua pasti tahu lagu di atas, bukan hanya sekedar tahu tapi pasti hafal di luar kepala. Lantas, apa pentingnya lagu itu? Jelas sekali bahwa lagu itu membahas tentang identitas kita, bangsa Indonesia. Herannya, kenapa lagu itu tidak berbunyi,’nenek moyangku orang petani..’ ? Padahal secara paradoks kita juga ditanami paradigma bahwa Indonesia adalah negara agraris. Jawabannya mari kita buktikan lewat catatan sejarah.

Berbagai literatur dan hasil kajian antropologis membuktikan bahwa manusia Indonesia sudah menjelajahi perairan Nusantara sampai ke Madagaskar di Afrika pada abad ke-7, masa kolonialisme abad 17-19 sampai menjelang Indonesia merdeka (baca: Antony Reid). Penggalian situs Delta Sungai Batanghari di Jambi membuktikan bahwa masyarakat pesisir di wilayah itu sudah menggerakkan aktivitas ekonomi pesisirnya dengan temuan alat tangkap ikan jenis bubu. Bahkan, di pelbagai pesisir pantai di Jawa dan Sumatera ditemukan situs perahu kuno, dan kerajaan maritim Sriwijaya di Sumatera Selatan dan Kerajaan Banten.

Sebuah hasil riset juga membuktikan aktivitas bisnis teripang sudah berlangsung sejak abad 14 yang dilakukan orang-orang Sulawesi Selatan. Bahkan, mereka menangkap teripang sampai ke Australia dan seluruh perairan Nusantara. Salah satu situs lukisan Gua di Pulau Muna Sulawesi Tenggara menggambarkan manusia melakukan aktivitas menangkap ikan dengan menggunakan perahu.

Belanda yang berhasil menjajah Indonesia hingga 300 tahun lebih dengan melalukan politik devide at impera melalui pemaksaan paradigma "pulau besar". Paradigma itu berciri inward-looking, statis, agraris, dan laut dianggap penuh misteri yang menakutkan. Indonesia menjadi sekadar kumpulan "pulau-pulau besar" yang terpisah-pisah sehingga mudah ditaklukkan. Namun, segera perlu dicatat bahwa seperti juga pilihan individualitas dan sosialitas bukanlah pilihan yang eksklusif secara mutual, pilihan paradigma pulau besar dan paradigma "kelautan" juga bukan dua pilihan eksklusif secara mutual.

Jika pardigma pulau besar menggambarkan cara pandang manusia yang seolah tidak pernah melihat laut, paradigma kelautan adalah paradigma water world, yakni paradigma manusia yang tidak pernah melihat darat. Paradigma kelautan itu tidak realistis karena manusia akan tetap menjadi makhluk daratan. Paradigma kelautan yang telah diupayakan sebagai antitesa selama 10 tahun terakhir ini terbukti tidak dapat diterima oleh banyak pihak di Indonesia karena kita bergerak kesisi ekstremitas yang lain.

Paradigma kepulauan ialah paradigma "jalan tengah" yang menyeimbangkan dimensi "pulau besar" dan water world, namun lebih inklusif, cukup dinamis, dan lebih outward looking dibandingkan dengan paradigma "pulau kecil" (paradigma Robinson Crusoe) yang isolasionis, tertutup, tidak ramah kepada pendatang, dan in-breeding.

Paradigma kepulauan juga memanfaatkan ketegangan kreatif antara paradigma pulau besar dan paradigma kelautan. Dari segi instrumen perumusan kebijakan pembangunan, paradigma kepulauan memiliki implikasi dinamika sistem dan gaming yang berbeda. Interaksi dan kecepatan proses-proses fisik, sosial, ekonomi, dan politik negara kepulauan dengan keragaman yang amat kaya memerlukan kerangka pemahaman baru dan lebih segar dari kerangka "pulau besar" ataupun "kelautan" yang kita kenal saat ini.

Paradigma pulau besar saat ini terbukti tidak cocok bagi Indonesia. Suprastruktur nasional kita gagal membangun kapasitas memerintah di laut kepulauan secara efektif. Saat ini banyak pulau kecil di Indonesia yang merupakan kantong-kantong kemiskinan. Beberapa pulau terluar bahkan terancam lepas ke negara tetangga karena kita gagal melakukan pendudukan yang efektif atas pulau-pulau tersebut. Laut yang tidak dikelola dengan baik bahkan tempat beragam tindak kejahatan seperti pembajakan di laut, illegal fishing, mining, trafficking, bahkan pembuangan limbah beracun. Laut "tak bertuan" itu juga mengurangi kepercayaan internasional atas kemampuan Indonesia menangani berbagai kecelakaan di laut yang membutuhkan kapasitas search and rescue yang memadai.

Setelah prinsip-prinsip negara kepulauan yang dideklarasikan Ir Djuanda pada 1957 diterima oleh UNCLOS pada 1982 melalui perjuangan panjang Muchtar Kusumatmaja dan at Hasyim Jalal, luas wilayah Indonesia bertambah secara amat berarti melalui pertambahan luasan laut dan perairan yang merupakan bagian kedaulatan dan kewenangan pemerintah RI. Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke menjadi seluas Eropa dengan bentangan seluas London hingga Istanbul. Implikasi dari penerimaan UNCLOS itu belum sepenuhnya disadari banyak kalangan, termasuk para pengambil keputusan strategis di berbagai bidang.

Kepulauan adalah satu kesatuan ruang gugusan pulau beserta laut di antaranya. Sumber daya kepulauan adalah sumberdaya pulau, pesisir, dan laut, serta dasar dan bawah laut. Untuk memanfaatkan sumber daya alam kepulauan diperlukan infrastruktur transportasi laut dan udara yang memadai agar kegiatan di kepulauan dapat dilakukan dengan aman dan efektif. Kebijakan yang mendorong pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kepulauan (antara lain, small craft tecnology, teknologi energi terbarukan dan air bersih, serta pengembangan indutrinya akan menentukan keberhasilan kita memanfaatkan sumber daya kepulauan bagi kesejahteraan masyarakat. Sayang, sampai saat ini infrastruktur iptek kepulauan yang diperlukan Indonesia masih jauh dari memadai.

Dari aspek legal, negara kepulauan Indonesia telah ditegaskan dalam UUD '45 yang diamandemen, kemudian dilengkapi engan produk perundang-undangan yang mendukung pengelolaan sumber daya kepulauan.

Produk perundang-undangan tersebut, antara lain, UU No 17/1985 tentang UNCLOS, UU No 31/2004 tentang Perikanan, dan UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, serta UU 17/2008 tentang Pelayaran nasional.

Segera harus dicatat bahwa masih banyak regulasi dan aturan pelaksanaan yang dibutuhkan untuk mengelola sumberaya kepulauan Indonesia secara efektif.

Lantas, apakah sebagai negara kepulauan maka (sekarang) Indonesia otomatis menjadi negara maritim? Apakah kalau kita bicara ikan kita di laut banyak sekali dicuri oleh nelayan asing ilegal kita bisa menganggap kita sebagai negara maritim yang mampu menguasai wilayah laut kita sendiri?

Itulah kenapa untuk menanggulangi krisis yang kian merebak dan agar Indonesia kembali ke ‘jalan yang benar’ maka harus ada perubahan paradigma pembangunan Indonesia, dari paradigma pembangunan “pulau besar” ke paradigma pembangunan “kepulauan”.


[+/-] Baca selengkapnya..

Minggu, 05 April 2009

URGENSI MANAJEMEN WAKTU

Sebelumnya gue mohon maaf. kepada Ust Arif, Bang Adji, FYI, artikel ini sudah gue selesaiin tanggal 15 Maret 2009. Tapi karena 'keajaiban' gue, baru bisa gue posting sekarang. afwan.
Well, gimanapun, gue tahu gue salah dan gue rasa tulisan inipun tidak bisa menebus kesalahan itu.

Alkisah dalam sejarah tiga kerajaan di Cina, pertempuran antara pasukan Cao Cao dan Sun Quan tidak bisa dielakkan lagi. Pertempuran yang terjadi di daerah yang disebut tebing merah ini sangat tidak seimbang. Pasukan Cao Cao yang dipimpin oleh Cao Cao sendiri berjumlah 800.000 orang melawan pasukan Sun Quan yang dipimpin oleh Zhou yu yang berjumlah 30.000 orang. Menyadari jumlahnya yang hanya sedikit, Zhou yu membuat aliansi dengan Liu Bei. Sehingga total kekuatan pasukan sekarang mencapai 50.000 orang.
Dengan tambahan 20.000 pasukan Liu Bei tetap saja pasukan Zhou yu bukan lawan yang seimbang untuk Cao Cao. Apalagi, pasukan Cao Cao diperkuat dengan ribuan kapal yang mereka miliki. Akan tetapi, Zhou yu diperkuat oleh seorang ahli strategi yang bernama Zhuge Liang. Zhuge Liang mengatakan bahwa mereka bisa menang apabila mereka berperang di waktu yang tepat, yaitu pukul 01.00. Istri Zhuge Liang yang mengetahui hal ini segera menuju markas untuk menemui Cao Cao sehingga waktu peperangan bisa diundur sampai tengah malam. Dengan ‘bantuan’ istri Zhou yu ini, pasukan Sun Quan yang berjumlah 50.000 orang bisa mengalahkan pasukan Cao Cao yang berjumlah 800.000 orang.
Dari kisah di atas, tidak heran ketika ada orang bijak yang mengatakan bahwa waktu adalah pedang bermata dua. Apabila kita bisa memanfaatkan waktu dengan baik, maka kita akan bisa menggunakan ‘pedang’ itu dengan tepat. Pun sebaliknya, apabila kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik, maka leher kita sendiri yang akan terpenggal.
Banyak orang juga mengatakan bahwa waktu adalah uang. Bagi para pedagang, telat sedikit saja bisa-bisa membuat mereka rugi. Pelanggang kabur, uangpun tak dapat. Hal ini juga berlaku bagi para professional. Bahkan beberapa ahli sampai dibayar Rp 30 juta untuk waktu mereka bicara selama satu jam.
Inti dari beberapa studi kasus di atas adalah mengenai urgensi manajemen waktu. Pasukan Sun Quan bisa menang melawan Cao Cao karena mereka memanage waktu dengan baik. Mereka tahu kapan harus bertahan dan kapan harus menyerang. Demikian juga dengan para pedagang atau orang-oran sukses lainnya. Kesuksesan mereka disebabkan selain kerja keras dan doa mereka, juga karena mereka berhasil memanage waktu dengan baik. Mereka berhasil mengelola waktu sehingga dalam 24 jam tidak ada waktu yang tidak berguna.
Kewajiban menghargai waktu juga sangat ditekankan dalam islam. Hal ini terbukti dengan perintah sholat lima waktu pada waktu yang telah ditentukan. Tidak mungkin kita sholat subuh di waktu dhuhur dan sholat dhuhur di waktu maghrib. Semua telah diatur dan umat islam wajib mematuhinya. Ini adalah salah satu bentuk pendisiplinan. Yang juga mencerminkan bahwa umat islam harus disiplin. Tidak hanya itu saja, beberapa surat di dalam Al Quran juga dinamai dengan ‘nama’ waktu. Lihat saja Al Ashr, Asy Syams, Adh Dhuha, dan Al lail.
Sebelum melangkah lebih jauh, seringkali kita mengatakan bahwa kita harus bisa memanage waktu tanpa mengetahui apa makna dari kata manajemen itu sendiri. Manajemen (Inggris : management) berarti mengatur. Bisa diartikan bahwa manajemen adalah seni mengatur sesuatu. Dari situ bisa kita simpulkan bahwa manajemen waktu adalah seni mengatur waktu. Bagaimana kita mengatur waktu kita untuk melakukan apa-apa saja yang menjadi kewajiban kita tanpa mengurangi hak kita untuk beristirahat.
Kemampuan manajemen waktu mutlak harus dimiliki oleh para dan calon pemimpin. Seorang pemimpin yang baik tentunya bisa membuat skala prioritas sehingga dia tidak merasa tertekan dan stress. Selain itu, seorang pemimpin yang tidak dilengkapi dengan kemampuan manajemen waktu tidak bisa dikatakan sebagai pemimpin yang baik dan benar.
Menurut ustad Hasan Al Banna, amanah yang kita tanggung di pundak kita jauh lebih banyak jumlahnya daripada waktu yang kita miliki. Hal ini penting sekali untuk diperhatikan oleh kaum muda yang merupakan calon-calon pemimpin, agar nantinya semua permasalahan bisa terselesaikan.
Akan tetapi, apabila kita lihat kenyataannya sangat memilukan. Banyak pemuda-pemudi yang menghambur-hamburkan waktunya dengan percuma. Seolah waktu adalah mainan yang bisa dipermainkan semaunya. Banyak pemuda kita yang dilenakan oleh slogan ‘mumpung masih muda, waktunya senang-senang’. Ini adalah pemikiran sesat yang menjangkiti mayoritas pemuda Indonesia. Justru mumpung kita masih muda harusnya kita manfaatkan waktu sebaik mungkin agar nantinya kita bisa bersenang-senang di waktu tua. Saya rasa happy ending jauh lebih menyenangkan daripada bersenang-senang dahulu bersusah payah kemudian.
Ada beberapa tips yang bisa dicoba bagi yang kesulitan manajemen waktu:
1. Batasi Kegiatan anda
Kita bukan superman. Oleh karena itu, walaupun amanah kita sangat banyak, tidak berarti semuanya harus kita lakukan dalam satu waktu. Agar semuanya terselesaikan dengan maksimal, batasi kegiatan anda. Jangan lakukan semuanya dalam satu waktu.
2. Bikin jadwal tertulis
Seringkali kita lupa akan apa saja yang harus kita lakukan. Oleh karena itu, membuat jadwal tertulis akan sangat berguna bagi para pelupa. Lebih baik lagi, apabila kita membuat jadwal di kertas kecil yang bisa kita lihat sewaktu-waktu.
3. Lakukan semuanya seefektif dan seefesien mungkin
Salah satu ‘penyakit’ kita adalah mengerjakan sesuatu secara tidak efektif. Untuk itu, jangan terburu-buru ketika melakukan sesuatu. Sebelum mengerjakannya, ada baiknya anda membikin rencana yang terstruktur rapi, sehingga apa yang kita lakukan akan efisien.


4. Bergegas untuk mengerjakan sisanya
Setelah melakukan sesuatu, maka bersegeralah mengerjakan yang lain. Jangan ditunda-tunda. Menunda pekerjaan hanya menimbun masalah yang justru akan sangat merugikan kita. Hal ini juga disebutkan di dalam Al Quran surat Al Insyirah ayat 7.
“Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”

[+/-] Baca selengkapnya..

Kamis, 24 Juli 2008

Katanya pengin maju… kok gitu?

Menjadi lebih baik dari waktu ke waktu adalah mimpi kita semua. Gak cuma diri sendiri yang jadi lebih baik, tapi semua orang pengin agar negeri ini juga lebih baik. Sebenarnya, peluang atau kesempatan menjadi lebih baik itu dimiliki oleh semua orang dan setiap Negara. Bedanya, ada orang dan Negara yang berhasil memanfaatkan peluang itu dan ada yang tidak.
Rakyat dan Negara Indonesia, bisa dibilang masuk dalam kategori kedua, yaitu yang gagal memanfaatkan peluang. Gak Cuma itu thok, untuk menjadi lebih baik, ada beberapa kesalahan berfikir yang harus diperbaiki. Apa aja itu???



1. Gak kenal diri sendiri
Nenek moyangku seorang pelaut…
Adalah satu kesalahan besar yang menyatakan bahwa Indonesia ini adalah Negara agraris. Lha wong lagu ketika kita masih kecil aja diajarin bahwa nenek moyang kita itu pelaut, bukan petani. Udah de, gak usah nyangkal lagi. Luas wilayah daratan Indonesia Cuma 1/3 dari luas total. Bandingin ama luas wilayah perairan yang mencapai 2/3. Belum lagi, di daerah yang luas banget itu tersimpan kekayaan tanpa batas. Ada ikan, ada sumber energi (gelombang laut, minyak), ada muacem2 lah pokoknya. Lha itu, kita dari dulu lupa atau bagaimana kok malah tidak memanfaatkan hasil laut ini secara maksimal. Sekarang aja baru dimulai, setelah banyak ikan kita dicuri. Nasib-nasib…
Pernah denger tentang atlantis tho? Itu lho, yang katanya benua yang hilang, pernah ada satu artikel yang menyebutkan bahwa atlantis itu ya Indonesia ini. Jadi, sang peneliti menyebutkan bahwa dari semua cirri-ciri fisik dan kondisi alam atlantis itu sangat mirip ama Indonesia. Salah satu contoh, orang atlantis itu pinter-pinter. Bandingin ama orang Indonesia, berapa banyak medali emas yang dibawa pulang Indonesia dari olimpiade2 sains internasional. Ngalahin Jepang, Amerika, lha, udah jelas tho.
2. Budaya yang salah
“biasa namanya juga orang Indonesia, pasti telat.” Ini yang saya maksud budaya yang salah. Kita (menurut saya) adalah korban dari kesalahan pendahulu kita atau bisa juga korban dari penjajah. Ketika mereka telat, tidak disiplin, mereka akan mengatasnamakan Indonesia. Akhirnya, ampe sekarang, kalau ada yang telat, tidak disiplin, ya itu psti orang Indonesia.
Pola piker seperti ini yang harus kita ganti. Minjem istilah computer, otak kita ni harus diformat trus diinstall ulang. Kita ganti operating system ‘males 45’ ama ‘NS 2008’ (NS singkatan dari New Spirit).
Katanya pengin maju,,,
3. Virus ‘kehilangan jati diri’
Ini penyakit yang menjangkiti generasi muda kita. Gara-gara yang namanya globalisasi, pemuda kita bingung. Sebenarnya anak Indonesia itu yang kayak gimana? Apa yang seperti di atas, atau kayak pemuda2 di Amerika, di Jepang atau gimana??? Bingung kita ini. Kita jauh lebih bangga belajar dan menguasai bahasa (bahkan budaya) Negara lain daripada mempelajari budaya kita sendiri. Saya tidak tahu, apakah ini karena mereka tidak puas dengan keadaan Indonesia sekarang sehingga mau cari ‘Ibu’ baru???
Mungkin obrolan fiksi ini bisa jadi contoh,
Orang Jepang (OJ) : ohayoo gozaimasu
Orang Indonesia (OI) : ohayoo gozaimasu
OJ : anda berasal dari Negara mana?
OI : oh, saya dari Indonesia
OJ : Indonesia… ruar biasa. Indonesia sebelah mana?
OI : maksudnya?
OJ : maksud saya, anda itu orang suku apa? Jawa, Sunda?
OI : oh, saya orang Jawa.
OJ : ruar biasa… ngomong2, kesenian tradisionalnya apa?
OI : apa ya… saya tidak tahu
OJ : tidak tahu??? Ruar biasa…
OI : tapi saya paham betul mengenai budaya minum teh, hara-kiri, pokoknya budaya negeri anda saya tahu semua.
OJ : begitu ya? Ruar biasa… anda tidak tahu budaya Jawa tapi paham betul budaya saya. Ruar biasa… jadi, anda itu orang mana? Orang Indonesia?
OI : …

Sakit….

ok. mungkin itu dulu. kapan2, kalau ada ide lagi tak kasih tahu. ok?
moga2 bisa jadi bahan renungan buat kita semua...

[+/-] Baca selengkapnya..